Teori-teori kepemimpinan yang pernah muncul sangat beragam banyaknya, mulai dari yang paling sederhana, misalnya hanya mengenai arti kepemimpinan, sampai dengan teori yang menguraikan berbagai tingkatan kepemimpinan seorang pemimpin. Teori kepemimpinan yang menguraikan peran pemimpin dalam sebuah organisasi formal akan menjadi rujukan dalam tulisan ini.Konsep kepemimpinan seperti dikemukakan Hersey dan Blanchard (1992 ; 3 – 4) sebenarnya mempunyai dimensi yang lebih luas dibandingkan dengan konsep manajemen. Manajemen dipandang sebagai suatu jenis khusus kepemimpinan yang mementingkan pencapaian tujuan organisasi. Dalam hal ini perbedaan pokok, menurut mereka, terletak pada istilah organisasi. Kepemimpinan terjadi setiap saat ketika seseorang berusaha mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang, apa pun alasannya.Stoner (1992 ; 468) mendefinisikan secara lebih luas, yaitu bahwa kepemimpinan menajerial merupakan proses, bukan hanya mengarahkan, yang mempengaruhi aktivitas-aktivitas anggota kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan tugas. Salah satu bagian penting dalam proses mengarahkan dan mengatur anggota organisasinya adalah berfungsinya peran-peran kepemimpinan yang seharusnya dipunyai oleh seorang pemimpin. Menurut teori kepemimpinan Minzberg dalam Yukl (1989 ; 62—65), peran-peran tersebut adalah peran interpersonal (terdiri atas peran sebagai simbol, peran sebagai pemimpin, dan peran sebagai penghubung), peran pemberi informasi (terdiri atas peran pemantau, peran penyebar, dan peran juru bicara), dan peran pengambil keputusan (terdiri atas peran kewirausahaan, peran penghalau gangguan, peran alokasi sumber daya, dan peran perunding).Semangat kerja, menurut Davis ( 1962 ; 130) adalah sikap individu dan kelompok terhadap lingkungan kerja mereka dan terhadap kesediaan bekerja sama dengan orang lain secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan mereka yang paling baik demi kepentingan organisasi (dalam kasus ini adalah perusahaan tempat mereka bekerja). Selain itu, Nawawi ( 1990 ; 154—155) berpendapat bahwa semangat kerja akan menyentuh aspek kemauan, kehendak, pikiran, dan sikap dalam melaksanakan pekerjaan. Semangat kerja yang tinggi dan positif merupakan faktor yang berpengaruh pada sikap, berupa kesediaan mewujudkan cara atau metode kerja yang berdaya guna dan berhasil guna dalam meningkatkan produktivitas kerja.Dalam kaitannya dengan prestasi kerja, menurut pendapat para ahli, semangat kerja dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, antara lain adalah faktor kepemimpinan, motivasi, dan budaya perusahaan. Dan berbagai tindakan yang mencerminkan semangat kerja, menurut Kerlinger (1987 ; 158—159), yang menjadi acuan dalam penulisan ini, adalah tingkat absensi, kerja sama, tingkat kepuasan, dan adanya disiplin dalam diri karyawan.
22.03
Yuliamus Rusdy Borneo